Rabu, 24 Desember 2008

PoEm With Rulliana


Aku terkurung dalam anganku
Terbawa angin tuli dalam gelapnya langit malamku
Ditemani cahaya seperempat lingkaran
Yang tak mampu menembus tebalnya dinding kamarku
Ah... ingin aku mendobrak kabut di sudut penglihatanku
Menembus gelapnya langit
Hingga temukan titik terang

_Rulliana_



malamku masih indah
setidaknya masih tersimpan harapan
akan senyum mentari yang lebih terang
esok.
entah esok yang seperti apalagi

_Rulliana_



seolah ku temukan kamu
di setiap puing – puing mozaik hidupku
yang tercecer di jalanan
seolah kamu selalu ada
di setiap pandangan mataku
aku yakin
aku sadar betul saat itu
seolah itu kamu
seolah aku melihatmu
benar...
seolah...

_Rulliana_


senja bermandikan awan kelabu
dengan sisa cahaya mentari
samar – samar
hampir tak terlihat
mengapa tak hujan saja?
biar pelangi dapat hiasi lembayung pucatku
temani senja sepiku

apakah ini pertanda malam tak berbintang?

_Rulliana_



Kuas tua ini sulit aku patahkan
Entah dulu ku buat dengan apa

Aku bosan dengan goresan – goresan yang dibuatnya
Tapi ia tak juga mau berhenti
menorehkan warna – warna sendu

bahkan sepertinya hujan dan sinar mentari
semakin memperjelas warna

entah dengan apa ku hilangkan semuanya
perlahan,
sepertimu...

_Rulliana_




Beri aku waktu
Untuk sekedar memahami semuanya
Entah tentang aku
yang sendiri sulit ku pahami -
Entah tentang ketiadaanmu
yang kian terasa kosong –
Juga kamu yang semakin berbeda
Maaf...
Maaf aku masih tertatih belajar berjalan
Sedang kamu kini t’lah lihai berlari
Tertawa menjelajahi duniamu yang semakin indah
Maaf aku masih tertatih untuk sekedar berada di sampingmu
Bukan salahmu jika ku panggil
Kau tak menoleh
Seharusnya aku bisa lebih cepat lagi belajar
Meski kini tertatih tanpamu

_Rulliana_



Sore ini hujan deras
Tapi,
ahh... apa pedulimu?
Apa di tempatmu kini juga hujan deras?
Belum tentu.
Hujan kini t’lah reda
Aku melihat keluar
Langit kian gelap
Tapi pasti
Di tempatmu sudah gelap sedari tadi
Malam ini bintang – bintang kita bersembunyi
Mungkin ia kedinginan
sehabis hujan tadi
tapi,
apa kamu masih peduli?

_Rulliana_



Aku ingin secerah mentari
Yang tak lelah sinari dunia
Yang senyumnya dinanti
Sayang, aku tak sanggup!
Mungkin harapku salah
Aku ingin seindah bulan purnama saja
Meski tak dapat bersinar sendiri,
namun bisa membuat malammu tersenyum
Tapi aku masih tak mampu!!
Mungkin sebaiknya
Aku berharap menjadi bintang saja
Cukup satu dari mereka
yang membuat malamku gemerlap
Itupun aku tak mampu!!!
Harus menjadi apalagi
untuk menjadi bagian dari harimu?
Aku masih tak sanggup masuk dalam hidupmu

_Rulliana_





Ternyata masih indah
Gelapnya malam
yang berpadu dengan cahaya setengah lingkaran
Indah...
Meski aku tak bisa melihat semuanya
dengan indah...
Indah...
Kulihat senyummu dalam gelap

_Rulliana_



Perahu kertas...
Terbawa arus sungai kering yang deras.
Sungai yang kekeringannya meluap
oleh hujan di bulan juli...
Perahu kertas...
Terkoyak tanpa makna
Sesampainya di tepian sunyi

_Rulliana_



Kali ini ku coba untuk tersenyum...
Biar senyum ini menghiasi di antara
butiran air mata yang meleleh..
mungkin terlalu cepat ku putuskan semuanya...
ahh... esok kapan datang??
Bosan aku menanti
Karena ia t’lah pergi

_Rulliana_


Perahu kertas rapuhku...
Akhirnya berhenti ikuti derasnya arus sungai kering
Perahu kertas rapuhku...
Saksi perjalananku..
Dilewatinya sungai – sungai kering
Sesekali berair
Lalu hilang
_Rulliana_


langit mendung
di jiwa tak berpalung
menghantui relung hati yang murung...
ahh.. hasrat menggunung galunggung
dirundung asa tak berujung
aku... terkurung dalam renung
_Rulliana_



ahh... hujan pasti sedang menyiram bougenville indahku
mengguyur tanah – tanah kering
membasahi ranting dan daunnya
Bougenville indahku,
Pasti esok akan lebih indah
Ahh, aku jadi takut melihatnya
Takut ia tak melihatku

Soalnya dia semu

_Rulliana_



tak ada yang hangat sepertimu
bahkan hangatnya musim panas yang indah dulu
tak ada yang lebih bijak darimu
hujan di bulan Juni sekalipun
tak ada yang lebih indah darimu
hingga rona lembayung senja tak bisa seindah kamu

meski kini, tak ada yang lebih dingin darimu
bahkan dinginnya hujan sore ini
yang mengikutiku hingga beku tangan dan kakiku

_Rulliana_

Aku adalah aku,suatu saat kau akan tau.Aku adalah aku,dengan segala kekuatanku.Aku adalah aku,dalam pijakanku.Aku adalah aku,gapai aku,kau tak kan mampu.Aku adalah lorong yang panjang,yang tak kan pernah bisa kau lewati,meski kau merintih nyeri.Aku adalah jalan terjal berliku,yang tak kan pernah dapat kau tempuh,meski peluhmu habis terkuras.karena begitu tajamnya pendakianmu,leburkan perih dan laraku,menjadi satu......



0 komentar:

DhEbiangLala © 2008 Por *Templates para Você*