Rabu, 24 Desember 2008

Cinta

Cinta . . . . cinta . . . cinta . . .
Semua orang di dunia yang bernyawa, baik yang menyadari atau tidak, pasti memiliki rasa cinta. Bagaimana tidak?? Sejak kecil, kita sudah di ajari untuk mencintai apa yang ada di lingkungan kita, seperti orang tua, sanak saudara, teman – teman, bahkan tetangga kita. Namun, banyak yang tidak menyadari cinta yang mereka rasakan. Buktinya, masih ada istilah “First Love” di kalangan remaja – remaja yang baru mengalami masa pubertas yang biasanya terjadi di kalangan siswa – siswa SMP atau SMA.
“First Love”... yang katanya nggak bisa di ungkapkan dengan kata – kata ( bagi yang ngerasain...) di artikan sebagai ‘Cinta Pertama’ oleh para anak – anak yang baru menginjak masa remaja. Anehnya, mengapa setelah sudah sebesar itu mereka baru menyadari bahwa mereka memiliki cinta? Lalu, apakah berarti sebelum mereka merasakan apa yang mereka sebut “First Love” mereka belum memiliki cinta?? Yah.. itu sih Cuma mereka yang bisa jawab...
Semua orang di dunia yang berperasaan pasti memiliki cinta, tetapi tidak semua orang di dunia dapat mengartikan makna cinta yang mereka rasakan. Dengan begitu, cinta yang dirasakan seseorang yang satu dengan yang lainnya tidaklah sama, karena tidak semua orang memiliki presepsi tentang rasa cinta yang sama. Bahkan sepasang kekasihpun belum tentu merasakan rasa cinta yang sama antara yang satu dengan yang lainnya.
Bagi orang – orang yang sedang tertarik pada lawan jenisnya, mereka mungkin hanya bisa mengatakan bahwa mereka sedang jatuh cinta. Namun tak banyak dari mereka yang mengetahui apa yang membuat mereka jatuh cinta.
Kata eyang Titiek Puspa, “Jatuh cinta berjuta rasanya”. Sehingga mereka yang ‘mengaku’ merasakannyapun tidak dapat mengungkapkan dengan kata – kata apa yang mereka rasakan. Mereka hanya mengatakan bahwa “cinta adalah perasaan dari lubuk hati seseorang kepada yang dicintainya.
Cinta adalah pengorbanan. Seseorang yang sedang mencinta, akan rela berkorban demi apa yang ia cintai. Bisa kita lihat orang tua kita. Mereka rela berbuat apa saja demi anaknya yang mereka cintai. Atau pernah kita mendengar roman cinta dari Perancis, yaitu Romeo dan Juliet. Dikisahkan dalam kisah, mereka rela mati demi orang yang di cintainya. Betapakah besar cinta mereka hingga dapat ‘membutakan’ hati dan pikiran mereka. Atau roman cinta dari Mesir yang terdapat pula dalam kitab Al – Qur’an, yaitu Yusuf dan Zulaikha.
Cinta... hidup tanpa cinta bagi sebagian besar orang yang berperasaan sama saja dengan hidup tanpa nyawa. Raga kita hidup, tetapi jiwa kita mati. Cinta membuat hidup menjadi lebih berwarna. Tanpa cinta, hidup akan terasa hampa. Cinta seperti air, ia dapat membantu, tetapi juga dapat menghancurkan.
Cinta yang baik ( yang menurut kaidah – kaidah dan norma – norma yang berlaku) dapat membuat hidup semakin indah. Dapat pula memberi semangat. Tetapi, cinta yang bertentangan dengan kaidah – kaidah dan norma – norma, dapat mencelakakan diri sendiri.
Lebih baik, kita mencintai diri sendiri terlebih dahulu sebelum mencintai orang lain. Karena, bagaimana kita dapat mencintai orang lain, sementara kita belum bisa mencintai diri kita sendiri?
Berbicara tentang cinta tentu tak akan ada habisnya. Karena, hingga saat ini belum ada definisi yang tepat untuk mengungkapkan makna dari kata CINTA.

Bulan Februari . . .
Tepatnya pada tanggal 14 Februari lalu, banyak remaja – remaja yang mengungkapkan perasaan mereka. Ada yang menggunakan bunga, cokelat, atau hadiah – hadiah yang mereka anggap dapat mewakili perasaan mereka pada orang yang mereka cintai. Mereka yang merayakannya mengatakan bahwa pada hari itu adalah “hari Valentine”, hari kasih sayang. Sebenarnya, perlukah hari kasih sayang itu ada? Apalagi dengan asal – usul keberadaan hari itu yang tidak jelas alasannya untuk diperingati. Apakah ini hanya ajang untuk unjuk perasaan di kalangan remaja tau bahkan yang merasa masih berjiwa muda?
Tepatnya, masih banyak yang belum bisa mengartikan makna cinta. Mereka masih belum bisa membedakan antara cinta dengan nafsu. Sebenarnya, cinta yang membuat sesuatu menjadi indah, atau sesuatu yang indah yang membuat orang jatuh cinta?
Mereka yang masih belum bisa membedakkan antara cinta dan nafsu, pasti akan mengatakan, “ Miliki apa yang kau cintai, bukannya cintai apa yang kau miliki”.

Witting Tresno Jalaran Saka Kulino . . .
Bagaimana dengan pepatah jawa yang berbunyi : “Witting Tresno Jalaran Saka Kulino” ? Cinta berawal dari kebiasaan. Ketika kita terbiasa bersama sesuatu atau seseorang, lama- kelamaan kita akan bisa mencintai sesuatu atau seseorang itu. Misalnya sahabat. Secara tak sadar, sebenarnya kita mencintai sahabat kita. Kita terbiasa berbagi perasaan padanya. Senang, sedih, bahagia, duka, bahkan bila kita sedang jatuh cinta, hampir semuanya kita curahkan pada sahabat, selain pada orang tua tentunya.
Jika cinta berawal dari kebiasaan, apakah seseorang yang terbiasa membenci sesuatu atau sesorang juga dapat dikatakan ia telah mencintai sesuatu atau seseorang itu? Jawabannya bisa iya atau tidak, karena itu tergantung pada orang yang menjalaninya.

Cinta Tak Harus Memiliki . . . ?
Apakah benar, cinta tak harus memiliki?? Menurut saya tidak. Ketika kita mencintai seseorang, secara tidak langsung kita memilikinya. Misalnya, kita mencintai orang tua kita, itu berarti kita memiliki orang tua yang kita sayangi. Kita juga memiliki sahabat yang kita sayangi pula. Dan . . . pacar ( bagi yang memilikinya) , ia juga kita miliki sebagai orang yang kita cintai. Siapapun yang kita cintai adalah milik kita, karena kita memiliki seseorang yang kita cintai, tak peduli apakah ia juga mencintai kita. Memiliki bukan berarti menguasainya bukan???





Rulliana Purbasari




0 komentar:

DhEbiangLala © 2008 Por *Templates para Você*